Rabu, 11 Januari 2012
Bersyukur karena ditipu
Biasanya, orang marah karena dibohongi atau ditipu. Saya juga begitu. Tapi pengalaman kami kali ini, sungguh sungguh membuat saya bersyukur karena telah ditipu dan tidak merupakan sebuah kenyataan.
Adalah tanggal 12 Desember 2011. Semua berjalan seperti biasa, pagi Cinta ke sekolah, saya ke kantor, Apak sibuk sendiri dengan pekerjaannya di rumah. Tiba tiba, sekitar pukul 9:30, Apak telpon ke handphone saya dengan suara super duper panik. Katanya "Du, Anake masuk rumah sakit !"
"Hah ?? Kata siapa?? Kenapa ??"
"Gak tau, ini tadi gurunya telpon, katanya jatuh, trus tidak sadar, dan dibawa ke rumah sakit. Coba kamu telpon gurunya di nomor ini...*saya dikasih satu nomor handphone*" Suara Apak yang panik bercampur tangis tidak memungkinkan saya bertanya lebih lanjut. Saya cuma bilang "Jemput kekantor sekarang !!" Apak masih mau mampir sekolah dulu, tapi saya bilang, nanti saja dalam perjalanan kita telpon ke sekolah. Saya tidak mau kehilangan waktu sedikitpun.
Sambil menarik napas menenangkan diri, saya telpon ke nomor tersebut. Yang menerima laki laki mengaku bernama pak Bambang, guru sekolah Cinta. Sambil menangis, dia bilang bahwa saat ini Cinta ada di UGD Rumah Sakit Dokter Sutomo dalam keadaan pingsan. Reaksi pertama saya mendengar penjelasan itu adalah : MARAH !!! "Kenapa dibawanya ke Dokter Sutomo ?!! Sakit apa??"
Lalu dengan sinetron melodrama, pak "Bambang" bercerita bahwa tadi di sekolah Cinta becanda dengan temannya lalu jatuh dari kursi, kepala terbentur, lalu pingsan. Dari pelipis keluar darah. Dan menyarankan saya bicara dengan dokter yang merawatnya. Saat itu, dari ujung kepala sampai ujung kaki, saya merasakan dingin yang menjalar dengan lambat. Mungkin begitu rasanya orang yang mau pingsan.
Lalu si 'Dokter" juga dengan suara cemas mengatakan bahwa "Anak Ibu sudah kami tangani, kami lakukan pertolongan pertama secepatnya, dan berikan alat bantu pernapasan. Tapi sampai saat ini belum sadar, dan ada darah di bawah kepala, mungkin penggumpalan (nggak cocok dengan kata kata "pak Guru", yang bilang yang bercucuran darah adalah pelipis...).
Kondisinya agak parah ini, Bu, tapi Ibu tidak perlu terlalu kuatir. Tapi, saat ini alat yang diperlukan tidak ada di Rumah Sakit, sebenarnya ada tapi saat ini habis."
"Trus ??"
"Coba Ibu hubungi Farmasinya, minta supaya alat segera dikirim".
"Alat apa???"
"Alat untuk membantu menyadarkan, Bu. Ibu telpon saja ke PT Farmasi, bicara dengan Profesor *the hell, saya lupa namanya* bilang saja supaya alatnya bisa segera dikirim, karena kalau alatnya tidak sampai dalam waktu 15 menit, anak ini tidak tertolong. Kode alatnya *dia kasih*".
Saya masih sempat bertanya, "Kenapa kok saya yang harus menghubungi Farmasi ya?"
"Öh, biar cepat kalau keluarga pasien yang minta, Bu"
Orang tua mana yang tidak panik...saya telpon si Profesor, (bodohnya kok ya saya nggak mikir, ngapain Farmasi perlu profesor. Pertama, tidak bisa nyambung. Saya telpon si dokter lagi, dikasih nomor lain. *Kelak baru saya sadar, ini usaha menaikkan kadar kepanikan*.
Setelah nyambung, si Prof bilang, alat sudah disiapkan, kurir sudah mau berangkat, dalam 5 menit sampai ke Dr Sutomo. Oh, OK. Saya sudah mau tutup, dia bilang, "Ibu sudah tahu harganya?" Hah?? Saya nggak mikir harga sama sekali, bahkan tidak mikir bahwa minta alat dari Farmasi untuk Rumah Sakit itu bayar. "Saya tidak tahu, tapi berapapun saya bayar !" Nah, mulai deh... Prof bilang, alatnya harganya Rp 14,500,000.
- OK.
- Tapi Ibu harus bayar uangnya baru alatnya bisa dikirim, Bu. Lokasi Ibu di mana sekarang.
- Loh, katanya alatnya sudah siap dikirim ?! Saya di Rungkut.
- Oh, jauh ya, Bu, tidak mungkin dalam 15 menit bisa sampai sini
- Ya memang, tapi saya mau berangkat sekarang.
- Begini saja, Bu, ibu transfer saja uangnya, nanti langsung kami berangkatkan.
Transfer uang, dalam keadaan panik bukan hal yang bisa dilakukan dalam sekejap, apalagi Apak sudah dalam perjalanan menjemput saya. Saya bilang, saya tidak sempat transfer sekarang, karena suami saya sudah mau datang. Nanti di sana saya bayar .
- Oh, tidak bisa, Bu, barangnya nanti tidak bisa keluar
- Lho, katanya kurirnya sudah siap berangkat? Saya jamin, saya akan bayar, pak, lagian kantor saya adalah rekanan rumah sakit itu ! Pokoknya alatnya kirim sekarang !
- Begini saja, Bu, Ibu transfer dulu seadanya, tidak perlu semua. Tabungan Ibu ada berapa?
- Saya tidak sempat !
- Atau dari credit card ibu kan bisa transfer, nanti ke ATM lalu pilih transfer ini itu...
- Saya tidak sempat !! Saya ke sana sekarang, ini suami saya sudah datang !! Telpon saya tutup, lari keluar. Cuma sempat pamit ke atasan via IM.
Di mobil, Apak sudah tidak bisa bicara. Yuk yang maksa ikut karena kuatir keadaan Cinta juga hanya bisa menangis. Di mobil baru saya tanya ke Apak, bagaimana jalan cerita telpon itu tadi. Apak bilang ya pak Bambang gurunya itu telpon bilang gitu. Saya tanya, emang ada nama gurunya pak Bambang ?? Apak bilang, kalau bukan guru ya satpam, pokoknya ada itu yang namanya pak Bambang. Ok, sekarang kita ke UGD dan saya akan telpon ke sekolah.
Di handphone ada nomor telpon sekolah Cinta. Saya dial, yang mengangkat pak satpam. Saya tanya, bagaimana keadaan Cinta? Satpamnya bingung. Saya minta disambung dengan guru. Waktu sudah nyambung, gurunya bingung, karena ternyata saya telpon ke TK. Tapi guru TK tersebut sempat tanya, ada apa, dan saya cerita. Kemudian beliau dengan hati hati berkata 'Bu, hati hati loh, banyak penipuan seperti itu, sebaiknya ibu check dulu ke sekolah". Iya...kata saya sambil nyari nomor telpon SD.
Jeda sesaat, saya bilang ke Apak kalau orang yang menelpon tadi minta transfer duit. Apak langsung seperti disiram air es, sadar ! Dia langsung bilang Öh, ini pasti penipuan !"
Telpon ke SD nyambung, saya bicara dengan satpam. Saya tanya 'bagaimana kejadiannya Cinta?". Pak satpamnya juga bingung. Saya tanya, apa ada namanya pak Bambang guru atau satpam di situ? Tidak ada. Apa tadi Cinta dibawa ke Rumah Sakit? Enggak. Apa ada ambulance atau mobil ke Rumah Sakit? Tidak ada tuh, Bu, dari tadi di sini tidak ada apa apa. Kalau ada kejadian apa apa kami pasti tahu, tapi dari tadi tidak ada. Jesus Kristus !! Plongggg banget rasanya.
Tensi saya turun banyak....tapi masih nggak sreg. Saya minta bicara dengan Mam, dannnn...salah lagi,saya minta bicaranya malah dengan Mam yang mengajar Cinta di kelas 1. Mam bilang "Ibu lupa ya...Cinta kan sekarang sudah kelas 2". Oh, sorry Mam, saya panik, lalu saya cerita kejadian dalam versi singkat. Mam bilang, Bu, itu penipuan, Cinta baik baik saja, ini loh anaknya ada. Ibu mau bicara supaya yakin? Mau dong...
Beberapa saat kemudian saya mendengar suara Cinta di telpon. Duh, nggak ada yang bisa mengalahkan kelegaan yang kami rasakan saat itu. Mobil yang sudah melaju ke arah Rumah Sakit (walau masih dekat dengan kantor) langsung berbalik, menuju sekolah.
Di depan sekolah, Cinta berdiri tenang....begitu saya mendekat dan memeluknya, kata kata pertama yang dia ucapkan adalah "Mamie, lain kali telpon dulu ke Mam...sudah banyak penipuan seperti ini lho, Mam". Huuuaaaaa.....makin rapat saya peluk dia...gak bisa mbayangi kalau kejadian beneran, anakku nggak sadarkan diri keleleran di UGD Dr. Sutomo...
Setelah itu saya mampir ke ruang guru dan menceritakan detailnya. Sayang Kepala Sekolahnya sedang tidak ada di tempat. Nomor telephone dan nama yang tadi saya hubungi saya serahkan kepada guru guru di situ. Dan Mam bercerita Cinta adalah korban ke 9, sebelumya sudah kejadian, bahkan salah satu orang tua murid sempat mentransfer kemudian baru sadar kalau dibohongi. Yaaaah, tidak bisa disalahkan 100%. Namanya dikasih tau kalau anak celaka, sudah pasti panik dan cenderung melakukan apa yang diperintahkan, semua teori untuk mencegah penipuan, sesaat pasti terlewatkan....
Di mobil Cinta dikroyok pelukan Apak dan Yuk...yang dipeluk hanya senyam senyum :D
Malamnya, setelah semua huru hara berakhir, saya pelan pelan tanya ke Yuk, bagaimana isi telpon yang diterimanya. Ternyata saudara saudari, penipu itu tidak menyebut nama Cinta. Dia hanya bilang "Anak Ibu yang di sekolah kecelakaan". Yuk kaget, mereconfirm dengan menyebut nama Cinta. Si penipu membentak bentak Yuk, minta bicara dengan "orang tua" Cinta. Oleh Yuk, telpon diserahkan ke Apak, Yuk sudah nangis aja....dan begitu diterima Apak, suara ditelpon berubah jadi bercucuran airmata seperti cerita di atas. Dan setelah saya ingat ingat lagi, suara telpon yang saya hubungi, semua sama, dari yang mengaku guru Kecoak, dokter Kampret dan profesor Kadal itu semua sama, dengan logat luar pulau (bukan orang Jawa)
Jadi pointnya, telpon seperti itu, mayoritas adalah telpon acak, bukan karena dia mengetahui detail keluarga kita. Memang ada yang canggih, yang sampai bisa menyadap telpon rumah,sehingga kemanapun kita telpon, pasti nyambung ke komplotan mereka, tapi itu jarang terjadi. Lebih seringnya penipu bermodal kartu pra bayar yang cukup sekali pakai lalu buang.
Salah satu teman saya di kantor, pernah di telpon seperti itu. Diberi tahu bahwa "Anaknya yang di sekolah jatuh dari lantai 2, en de bla en de bla". Sesaat panik, tapi kemudian sadar, sekolah anaknya tidak tingkat. Langsung dia jawab "Heh, kalau mau nipu yang bener, wong nipu kok salah" lalu telpon ditutup...hihihi...mana ada nipu bener ?!
Akhir cerita, saya ingatkan lagi, apapun,mengaku sebagai siapapun yang menelpon memberi tahu such bullshit, anak kecelakaan lah, di tangkap polisi lah, telpon balik dulu ke sekolah, kantor atau handphone dengan nomor yang kita tahu, jangan nomor yang mereka beri. Dan semoga Tuhan melindungi kita semua.
Posted by Keluarga Cinta at Rabu, Januari 11, 2012
Labels: Ceritaku
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)



0 comments:
Poskan Komentar